Rest in peace mas Iwan
Batu malang 19 Celcius akhir-akhir ini masih tetap tidak sedingin waktu awal menjadi keluarga di trah Mbah Min puluhan tahun silam. Kini batu di salah satu kampung jun rejo masih bernuansa agro wisata dengan atribut sebagian penduduk yang khas sebagai petani sayur dengan sentuhan fasilitas modern. Sepatu boat, topi laken lebih familiar dikenakan di saat siang dan baju koko dengan kopyah pun banyak menghiasi sore menjelang magrib. “yo opo cak? ” kon kapan tekan? ” lontaran pertanyaan akrab dari tetangga yang saya jumpai menyadarkan diri untuk belajar mengikuti aksen arek ngalaman. (dibalik malangan).
Kopi hitam khas buatan mbah uti, sungguh luar biasa dan sayangnya kegemaran mbah min terhadap rokok klobot tidak bisa diikuti seumuran saya. Bagaimana mbah min menghisap klobot begitu enjoy dimana mbah yang lahir pada tahun 1926 ini jarang tampak lelah meski di aktifitas harian lebih sering membawa cangkul untuk mengurus lahan bawang. Sepeminuman kopi hitam bersama mbah min banyak yang saya dapati mulai dari bagaimana mbah dulu berjuang lawan penjajah, dan bukti kuat dia turut berjuang yang sampai sekarang diusia kepala 9 masih bisa menyanyikan lagu-lagu mars jepang.
Perjuanganya tidak hanya untuk negara. Tapi juga kepada ke empat anaknya yang sekarang menjadi budhe, pakdhe, om dan tante saya. Dan waktunya masih difungsikan untuk mengawasi cucu-cucu nya yang selama dua hari ini berhasil ikut mengantar ke solo salah satu cucu untuk berobat dan singgah di parangjoro dan hari ini sang cucu yang biasa saya panggil “mas Iwan” dibawa kembali ke batu untuk pulang. Dan singgahnya semalam di solo ternyata jadi malam terkahirnya mas iwan karena dalam perjalanan pulang ke batu malang dia (mas iwan) pulang yang sesungguhnya.
Rest In Peace.. Mas Iwan..

Leave a Reply