Alunan gendhing jawa laras maya, dan suara perkutut di lobby medwist kali ini memberi nuansa santai untuk duduk bareng dan merasakan kemesraan-kemesraan setelah kita piket bersih-bersih ruangan. Dilanjut dengan menikmati teh gopek dan dandang yang dicampur yang berhasil menjadi favorit kita.
“Cerita petruk dadi ratu, sangat jelas menggambarkan seorang yang hanya menemani si majikan bertapa, berjuang dan mencari ilmu akhirnya ikut kecipratan aura dan suatu ketika berkesempatan mendapatkan anugrah untuk menjadi orang yang sukses. Lantaran sukses itu juga melibatkan perilaku, ada beberapa hal yang ternyata si Petruk tidak kuat untuk tetap jaya. Ketika kesuksesan itu diraihnya, perilaku mendasar “ibarat kacang lupa kulitnya” menyebabkan ia harus rela kembali menjadi biasa lagi.
“Terkadang memang sukses yang diasumsikan itu sudah diraih, ternyata masih bersifat fluktuatif, dan menjadikan ia lupa akan hal-hal mendasar. Ia lupa harus bagaimana low profile, ia lupa harus bagaimana menempatkan dirinya terhadap keluarga, ia lupa bagaimana harus bersikap sewajarnya terhadap rekan perjuangan, terhadap guru-gurunya, terhadap siapa saja yang terlibat dalam hidupnya”.
Cerita di “ngeteh pagi” ini begitu mendalam untuk direnungi, yang semoga senantiasa bisa menjadi bahan untuk mengingatkan diri ini lebih baik.

Leave a Reply