Petruk Dan Gunung Arjuna Batu Malang

“Petruk dan saudara-saudaranya malah bermain-main di puncak gunung sambil menggapai-gapai bintang yang diperkirakan dekat dengannya. Arjuna menegurnya bahkan hingga menjelang fajar mereka semakin tidak fokus pada tugasnya dalam mendampingi sang majikan. Kekesalan Arjuna makin dirasa oleh petruk dan saudara-saudaranya ketika pucuk gunung ditendangnya hingga terbang melayang ke arah selatan sampai jatuh dan kelak pucuk gunung itu disebut sebagai gunung wukir. Lantas gunung yang tadi dipakai buat bermain-main disebut sebagai gunung Arjuna”, sambil nyruput kopi itemnya, mbah buyut melanjutkan ceritanya. Mbah buyut selalu energik untuk bercerita setelah si cucu bertanya mengenai seputar daerah Batu dan kebudayaan. Diusianya yang mendekati seratus Ia masih segar bugar dan kesehariannya mencangkul kebun sayur cukup memberi ruang buat menjaga kesehatan dan kebugarannya.

Makin larut hari kedua di rumah mbah buyut obrolan entah sudah yang keberapa bersamanya membuka beberapa wacana mengenai perihal silaturahim. “Koen iso nyinau gamelan ed!”, Kendang, kempul, bonang, centhing – ndang ayo podo ngumpul mbok o nang kono opo ning kene. Yen wis ngono rasakno iromone, yo opo rosone?”,

Ketika suara centhe thang thing thang thing, dibarengi suara bonang dan instrumen yang lain bakal berbeda beda suaranya tapi terdapat harmonisasi di perbedaan suara tersebut. Ada nada sumbang yang bisa diibaratkan bahwa dalam mengarungi kehidupan ini bakal ada nada nada yang ditujukan pada kita baik itu yang miring atau tidak. Lantas kita menikmati kedua-duanya dengan merasakan sebuah rasa pasrah atau gong”.

Sebenarnya susah untuk me-review kembali pitutur mbah, apalagi melaksanakanya. Lebih mudah mendengarnya 😀, hanya saja kita yang muda tetap ” doing our best”.


Posted

in

,

by

Tags:

Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *