.. misal kita tekan gas sekencang-kencangnya kemudian mobil melesat dengan cepat dan ketawang ibu pertiwi atau kutut manggung mengiringi, atau dikerumunan banyak orang dan berjubel, saling sibuk dengan aktifitasnya namun kitanya masih bisa nimbrung dalam transaksi yang diikuti tetapi batin tidak lalai untuk sekedar menyebut asma NYA. Perlahan, lirih tetapi itu jelas tidak mengurangi kemantaban jiwa yang terus ingin berdekatan pada NYA. Sebuah konsep topo ngramen, dimana keadaan yang begitu ramai dikanan kiri kita tetap tidak membuat lalai hati untuk nyawiji, manunggal kepada NYA” …
Obrolan sore waktu itu dengan mbahku yang gondrong memberi pencerahan tersendiri untuk pencarian sebuah makna. What to do? what will be ?

Leave a Reply