Lereng Wukir Batu

Lalu lalang petani pegunungan bermotor butut semi trail meramaikan jalanan desa Torongrejo menuju “ngulon”, yaitu istilah lokasi pertanian berterasering sebelah barat kampung. Embun pagi dan kabut tipis masih tampak membekukan suasana.

Kaca jendela rumah, kaca mobil, kaca spion motor dapat dicorat-coret menggunakan ujung jari karena mengembun. Usil jari yang demikian hampir terbiasa sejak kita kecil tentunya.

Mobil pick up juga berlalu lalang sepagi tadi membawa tumpukan sayur hasil panen setelah subuh. Sekali tempo ibu-ibu bercaping dengan kostum telesan (kostum ke sawah) lengkap sepatu boots beriringan menuju ke ladang.

Matahari mulai memancarkan sinar keemasanya menerobos lubang-lubang jendela rumah beserta sela rimbunan daun dan mencairkan suasana beku menjadi keriangan. Terlihat beberapa tetangga meninggalkan jemuran baju yang masih meneteskan air akibat tidak memakai spin mesin cuci.

Sepertinya mewah atau tidak mewah bukan lagi sebagai “life style” / gaya hidup dipagi seperti ini. Semuanya natural menyongsong kewajiban, bertindak alami mengikuti alur kehidupan. Diri inipun ingin sekali bisa terlibat secara sempurna di kebahagiaan yang tetap natural.

Sepeminuman teh lengkap dengan obrolan tentang hal-hal ringan dikehidupan ini tanpa ada unsur politik, materi, ngrasani sesama tentu pagi ini benar-benar luar biasa melengkapi. Bisa saja kita istilahkan pagi ini dengan perfect morning.

(Lereng Wukir – Torongrejo Batu)

Edit


Posted

in

,

by

Tags:

Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *