Suara perkutut sekali-sekali memamerkan “kung” nya. Menjadi filosofi tersendiri jika perkutut kita gantung setinggi-tingginya, mengingatkan kita pada konsep “metekung menduwur sak duwur-duwure”, atau bermunajad ke Yang Maha Atas segala-galanya.
Kamipun masih merasa bodoh untuk mengupas irama gending pangkur nyamat di sela obrolan, namun irama tersebut mampu meredam emosional dan memberi efek nglaras.
Earthen ware berupa poci khas daerah makam Sunan Pandanaran itu memberi filosofi tentang asal usulnya dari tanah dan nanti kembali lagi ke tanah.
Gebyok kayu jati, menginspirasi jatining diri sejatining urip. Gabah sak unting dan begitu susah dicari diistilah bahasa Inggris sebab sejauh yang kami tahu, gabah, menir, beras dalam ilmu bahasa Inggris hanya ada istilah “rice”. Kamipun memvisualisasikan gabah sebagai pengingat agar kedepan senantiasa berjuang pula menjemput rejeki yang bisa dimanifestasikan menjadi menir, beras dan bermacam manifestasi lainnya.
Pelan-pelan namun pasti kita diperbolehkan untuk membuat konsep mandiri, konsep berdialektika, konsep berkarya yang bisa dimaksimalkan untuk kebutuhan sekarang dan kelak.

Leave a Reply