Dunia tersebut hanya kecil, dengan diameter kurang lebih setengah meter. Itulah dunia yang kusebut sebagai dunia porthole. Saya sempat hidup di dalamnya, di sebu
ah dunia yang berada di dalam porthole, yang pandangan saya hanya terbatas oleh jendela bundar, berukuran diameter setengah meter tersebut. Orang dari luar memandangnya sebagai kapal pesiar yang megah, yang sangat fantastis. Tetapi saya di dalamnya, bersama rekan, teman kerja, penumpang, dan siapa saja yang ada, menjalani suatu bentuk kehidupan dengan banyak ragam.
Awalnya saya mencari uang (Dollar), dan berikutnya idialis saya mengarah kepada karier, namun lambat laun toh ujung-ujungnya tetap yang saya cari adalah duit. Dengan berbagai motivasi yang sebenarnya saya bawa dari darat (keluarga). Saya menjalani kontrak demi kontrak. Ada saja perasaan yang terkadang kangen untuk kembali, tetapi terkadang tidak saya pungkiri saya muak tatkala saya sudah berada di dalamnya.
Bulatnya bumi ini, luasnya samudra, dan terbentangnya daratan yang begita lebar, hanya saya tempuh dengan rutinitas di dalam kendaraan bergeladak dan porsi pandangan yang hanya selebar bundaran porthole itu.
Versi memandang dunia yang diluar sanapun sangat bervariatif, dan itu kubuktikan dari pernyataan yang terlontar dari orang senasib.
Pandangan saya sangat picik dalam memandang dunia yang lebih luas di luar sana.
Saya disini, di dalam porthole, menyaksikan betapa sisi buruk, gelombang munafik, ucapan konyol bahkan persepsi jelek tentang perjalanan menjalani kontrak, sangat terlihat sekali, dan banyak energi yang akhirnya terbuang sia-sia.
Saya…mengakui saya pernah di dalamnya dengan segala keterbatasan, saya mengakui di dalamnya hanya sebatas makhluk kecil yang berusaha untuk menjadi baik, dan saya di dalamnya ingin bisa lebih baik… itupun hanya bisa saya awali dari rintihan kecil dari hati ini….
dunia porthole………akankah menjadikan picik pandangan ini…..
catatan kecil dari buku diary merah cabin c 45. westerdam 2000.
Adix

Leave a Reply